Opini : Rumusan kenapa aku benci sinetron. Bag 2 Fin.
--orat - oret bag 2 ini ada sebagai kelanjutan dari "Opini : Rumusan kenapa aku benci sinetron. Bag 1." silahkan di cek dulu bagian sebelumnya, sebelum membaca orat - oret ini, trims--
Di dalam sinetron sendiri penulis seharusnya mencoba untuk membangun tokoh yang memiliki sifat manusia, mengingat di sinetron, penulis sering memiliki formulanya sendiri : tokoh yang baik dibuat sangat baik dan tokoh yang jahat dibuat jahat, dan disini jahat yang dimaksud bukan jahat yang bagus tapi jahat plot device.
Di sinetron, seperti yang saya bilang tadi, dualitas karakternya sangat kurang. Mana ada orang baik yang tidak stood up melawan kejahatan dan hanya berserah selama tubuhnya diinjak - injak oleh si "jahat". Menurutku karakter baik seperti ini tidak salah, karena tidak semua orang berani melawan tindasan, tapi, dalam sinetron, formula itu seakan digunakan berulang - ulang, alur cerita sendiri menjadi mudah ditebak dengan akhir dimana si baik akan menang dan jahat akan mendapat "azab" mungkin dengan hilangnya posesi, atau wajah si jahat yang berborok karena sulap dan sihir, atau si jahat bertemu dengan kematian. Masalahnya dengan tokoh orang baik disini adalah penggunaan tipikal karakter sama secara terus menerus yang membuat tipikal karakter seperti ini menjadi klise dan mudah ditebak.
Kalau dengan counterpart yang satunya, alias si "jahat", masalah yang sering aku temukan dengan karakter si jahat adalah kurangnya eksposur terhadap alasan kenapa dia, "si jahat", berlaku seperti dirinya sekarang. Tidak ada penjelasan kenapa si jahat itu berlakon jahat, penulis hanya mengeksploit kejahatan mereka sebatas --misalnya-- mereka iri, mereka dengki, mereka jahat. menurutku, seharusnya penulis lebih mengeksploit alasan dan sisi lain dari si jahat, mungkin melalui flashback dimana si jahat menjalani hidup yang penuh hardship yang mengubah derajat hidupnya dari baik menjadi jahat.
Intinya, penulis harus berani mengambil langkah baru dalam membuat cerita diluar formula yang selama ini dia tulis. Penulis harus berani menulis masalah manusia, bukannya menulis tentang si baik yang ditindas dan si jahat yang secara ajaib mendapat azab seketika, setelah menindas si baik.
***
Di dalam sinetron sendiri penulis seharusnya mencoba untuk membangun tokoh yang memiliki sifat manusia, mengingat di sinetron, penulis sering memiliki formulanya sendiri : tokoh yang baik dibuat sangat baik dan tokoh yang jahat dibuat jahat, dan disini jahat yang dimaksud bukan jahat yang bagus tapi jahat plot device.
Di sinetron, seperti yang saya bilang tadi, dualitas karakternya sangat kurang. Mana ada orang baik yang tidak stood up melawan kejahatan dan hanya berserah selama tubuhnya diinjak - injak oleh si "jahat". Menurutku karakter baik seperti ini tidak salah, karena tidak semua orang berani melawan tindasan, tapi, dalam sinetron, formula itu seakan digunakan berulang - ulang, alur cerita sendiri menjadi mudah ditebak dengan akhir dimana si baik akan menang dan jahat akan mendapat "azab" mungkin dengan hilangnya posesi, atau wajah si jahat yang berborok karena sulap dan sihir, atau si jahat bertemu dengan kematian. Masalahnya dengan tokoh orang baik disini adalah penggunaan tipikal karakter sama secara terus menerus yang membuat tipikal karakter seperti ini menjadi klise dan mudah ditebak.
Kalau dengan counterpart yang satunya, alias si "jahat", masalah yang sering aku temukan dengan karakter si jahat adalah kurangnya eksposur terhadap alasan kenapa dia, "si jahat", berlaku seperti dirinya sekarang. Tidak ada penjelasan kenapa si jahat itu berlakon jahat, penulis hanya mengeksploit kejahatan mereka sebatas --misalnya-- mereka iri, mereka dengki, mereka jahat. menurutku, seharusnya penulis lebih mengeksploit alasan dan sisi lain dari si jahat, mungkin melalui flashback dimana si jahat menjalani hidup yang penuh hardship yang mengubah derajat hidupnya dari baik menjadi jahat.
Intinya, penulis harus berani mengambil langkah baru dalam membuat cerita diluar formula yang selama ini dia tulis. Penulis harus berani menulis masalah manusia, bukannya menulis tentang si baik yang ditindas dan si jahat yang secara ajaib mendapat azab seketika, setelah menindas si baik.
***
Comments
Post a Comment